Rabu, 14 Desember 2011

Laporan Pil


BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
     Obat didefinisikan sebagai suatu zat yang dimaksudkan utnuk dipakai dalam diagnosis,mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah peyakit pada manusia atau hewan. Salah satu kualitas obat yang mengherankan ialah mempunyai beraneka ragam kerja dan efek pada tubuh.
Setiap produk farmasi merupakan formulasi yang unik tersendiri. Disamping ramuan teraupetik yang aktif, formulasi ini pun masih mengandung sejumlah unsur-unsur nonteraupetik. Unsur – unsur ini pada umumnya dihubungkan sebagai bahan tambahan farmasetik, bahan pembantu atau bahan yang dibutuhkan, dan melalui pemakaiannya, suatu formulasi akan menimbulkan komposisi yang unik dan penampilan fisiknya yang khas, termasuk kedalam bahan – bahan tambahan ini pengisi, pengental, pembawa, surfaktan, zat penstabil, pengikat pada pil, zat pengawet, zat pemberi rasa, zat pewarna dan zat pemanis.
Pil merupakan salah satu produk farmasi yang beredar dipasaran. Pil merupakan salah satu sediaan farmasi yang sudah lama digunakan. Sedian pil sudah dikenal sebelum keluarnya produk obat modern, dahulu pil dibuat dengan cara tradisional akan tetapi untuk saat ini pil lebih mudah dibuat dengan cara yang lebih modern. Masyarakat lebih menggemari obat-obat tardisional dalam bentuk sedian pil dari pada sedian yang lain seperti jamu cair dan jamu serbuk, karena pil sangat evisien dikonsumsi tidak berasa pahit dan cara minum yang sangat mudah dari pada sedian yang lain. Oleh sebap itu sedian pil masih sangat diterima oleh masyarakat luas.
Tidak menutup kemungkinan sedian pil juga dikembangkan dalam pembuatan obat-obat sintesis dan obat-obat modern, seperti halanya pil KB, pil obat magg dan lain-lain. Sedian pil bisa di buat dengan cara tradisional dan cara modern. Oleh sebab itu sedian ini masih diajarkan dan di kembangkaan dalam lingkungan sekolah dibidang kefarmasian.
Namun bagi para pembuat yang masih baru pertama membuat terkadang masih banyak hambatan yang terjadi. Itu disebabkan karena banyak bahan obat yang perlu diperlakukan secara khusus. Selain itu, banyak juga bahan–bahan yang digunakan untuk membuat sediaan pil. Oleh karena itu, cara–cara pembuatan pil harus dipahami oleh para pembuat.
I.2 Maksud Dan Tujuan
I.2.1 Maksud Percobaan
  Memisahkan campuran dengan komponennya.
I.2.1 Tujuan Percobaan
Setelah mengikuti percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk :
1.      Mengetahui dan memahami teori umum pil.
2.      Mampu mambaca dan membuat resep pil dengan metode pembuatan pil yang sesuai dengan zat aktif.
3.      Mampu mengitung dosis dari pil yang telah dibuat.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.I Teori
 Pilulae menurut FI III adalah suatu sediaan berupa massa bulat mengandung satu atau lebih bahan obat. Boli adalah pil yang beratnya 300 mg, pembuatannya sama dengan pil. Granula adalah pil kecil yang beratnya tidak lebih dari 30 mg, mengandung 1 mg bahan obat.
       Macam sediaan pil:
                  Bolus > 300 mg
                  Pil 60 – 300 mg
                  Granul  1/3 – 1 grain
                  Parvul  < 20 mg
            
Komponen pil:
   1. Zat utama : Berupa bahan obat padat (kinin sulfat), setengah padat (ekstrak beladon), cair (Tinct. Opii)
2. Zat tambahan berupa :
          - Zat Pengisi : Gunanya untuk memperbesar volum pil. Contohnya : Akar                         manis, bolus alba.
- Zat Pengikat : Membuat massa supaya saling melekat antara satu dengan yang            lain. Contohnya : Sari akar manis, gom akasia dan tragakan, succus.
- Zat pembasah : membasahi massa sebelum dibentuk.
  Contohnya : Air, gliserol, sirup, madu, campuran bahan tersebut atau bahan lain yang cocok.
       - Bahan Pemecah: Adanya bahan pengikat membuat pil sukar larut/pecah di          lambung butuh bahan pemecah Natrium bikarbonat aa bahan obat.
                - Zat Penabur : Membuat sediaan yang telah terbentuk tidak melekat satu sama lain atau dengan alat. Contohnya liqopodium dan talk (BO oksidator/ garam                      PB, pil putiah, kan disalut, amilum orizae, MgCO3,  radix liquiritiae pulv.
        -  Zat penyalut : Digunakan untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak.            Mencegah perubahan.
      Pembuatan Sediaan
        Cara pembuatan pil pada prinsipnya, mencampur bahan-bahan obat padat sampai homogen kemudian ditambah zat-zat tambahan, setelah homogen ditetesi bahan pembasah. Kemudian dengan cara menekan sampai diperoleh massa pil yang elastis lalu dibuat bentuk batang dan dipotong dengan alat pemotong pil sesuai dengan jumlah pil yang diminta. Bahan pelicin ditambahkan setelah terbentuk massa pil agar supaya massa pil yang telah jadi tidak melekat pada alat pembuat pil.
TUJUAN PEMBERIAN SEDIAAN PIL
      A. Mudah digunakan/ditelan
      B. Menutup rasa obat yang tidak enak
      C. Relatif stabil dibanding bentuk sediaan serbuk dan solution
      D. Sangat baik utk sediaan yg penyerapannya dikehendaki lambat
KERUGIAN PIL
      A. Obat yang dikehendaki memberikan aksi yang cepat
      B. Obat yang dalam keadaan larutan pekat dapat mengiritasi lambung
      Syarat Pil
     A. Pada penyimpanan bentuknya harus tetap tidak begitu keras sehingga dapat       hancur dalam pencernaan. Untuk pil salut enterik tidak larut dalam lambung     melainkan usus halus.
      B.  Memenuhi keseragaman bobot.
      C.  Waktu hancur memenuhi syarat pengujian.
      II.2      URAIAN BAHAN
1.      Kalii permanganas  (FI edisi III, hal : 330)
Nama latin                               : KALII PERMANGANAS
Sinonim                                    : Kalium permanganas
Nama kimia                             : KmnO4
Pemerian                                  : Hablur mengkilap, ungu tua atau hampir  hitam  tidak berbau, rasa manis atau sepat.
Kelarutan                                   : Larut dalam 16 bagian air, mudah larut dalam    air   mendidih.
Khasiat / kegunaan                  : Antiseptikum Ekstern.
Penyimpanan                              : Dalam wadah tertutup baik.
2.      Succus Liquiritae
Succus ini merupakan sediaan galenik dan radix liquiritae.
Pemerian                                             : Berwarna hitam coklat, larut dalam air.
Khasiat                                                : Zat pengisi (IMO; 84).
Penyimpanan                                             : Dalam wadah tertutup baik.

3.      Vaselin albi (Vaselin album) (FI edisi III, hal :633)
Nama latin                                : VASELIN ALBUM
Sinonim                                     : Vaselin putih
Pemerian                                  : Massa lunak, lengket, bening,putih. Sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiaarkan hingga dingin tanpa diaduk.
Kelarutan                                 : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)p. Larutan kadang-kadang beroplasensi lemah.
Khasiat / kegunaan                     : Zat tambahan (pengikat)
Penyimpanan                              : Dalam wadah tertutup baik.
4.      Aqua gliserinata (Aqua + Gliserin) (FI edisi III, hal : 96)
a.       Aqua destillata
Nama latin                            : AQUA DESTILLATA
Sinonim                                : Air suling
Pemerian                              : cairan jernih, tidak berbau, tidak mempunyai  rasa.
Khasiat / kegunaan               : Zat taambahan (pelarut)
Penyimpanan                        : Dalam wadah tertutup baik.
b.      Gliserin (Glycerolum) (FI edisi III, hal : 271)
Nama latin                            : GLYCEROLUM
Sinonim                                : Gliserol, Gliserin
Rumus struktur                  : CH2OH-CHOH-CH2OH (C3H8O3)
Pemerian                             : Cairan seperti sirup, jernih, tidak berwarna, tidak berbau manis di ikuti rasa hangat.
Kelarutan                              : Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam minyak lemak.
Khasiat / kegunaan               : Zat tambahan (pelarut)
                        Penyimpanan                         : Dalam wadah tertutup baik.


BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat Dan Bahan
3.1.1 Alat-Alat Percobaan
·         Alu
·         Gelas ukur
·         Lumpang
·         Lap kasar
·         Lap halus
·         Kaca arloji
·         Kertas perkamen
·         Neraca analitik
·         Pipet
·         Sendok tanduk
·         sudip
3.1.2 Bahan-Bahan Percobaan
·         Kalium permanganate 1,5 g
·         Succus liquiritae 0,3 g
·         Vaselin alba 0,3 g
·         Aqua gliserinata (5 tetes aqua + 5 tetes gliserin)
3.2 Cara Kerja
·         Disiapkan alat dan bahan.
·         Dibersihkan lumpang dan alu dengan menggunakan kapas beralkohol.
·         Ditimbang bahan-bahan kalium permanganate 1500 mg,succus liquiritae 300 mg,vaselin alba 300 mg dan diukur aqua gliserinata,sebanyak 5 tetes aqua dan 5 tetes gliserin.
·         Dimasukkan bahan obat utama ( kalium permanganate),zat pengisi (succus liquiritae),zat pengikat (vaselin alba) kedalam lumping digerus hingga halus dan homogen.
·         Ditambahkan sedikit demi sedikit zat pembasah (aqua gliserinata),hingga massa pil menjadi plastis dan mudah dikepal.
·         Ditaburi papan pil dengan menggunakan talcum,massa pil digulung-gulung lalu dipotong,kemudian ditimbang.
·         Massa pil yang sudah ditimbang dibulatkan dengan cara digelinding-gelindingkan pada alat pembuat pil.
·         Dikemas dan diberi etiket putih,disertai aturan pakai.


BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

VI.1 Hasil Pengamatan
* Perhitungan bahan
   1 pil permaganas kalium          = 50 mg
   30 pil permaganas kalium        = 30 X 50 mg = 1500mg = 1,5 g
   Bobot pil                                 = 60 mg
   Succus liquiritiae                     = 60 mg - 50 mg = 10 mg
   30 pil                                       = 30 X 10 mg = 300 mg
   Vaselin alba                             =                                  
=  jumlah kalium permanganut + succus liquiritiae
= 1500 mg + 300 mg
= 1800 mg



IV.2  Pembahasan
Pada prinsipnya pembuatan pil adalah mencampurkan  bahan-bahan, baik bahan obatatau zat utama dan zat-zat tambahan sampai homogen.h, Setelah homogen,campuran ini ditetesi dengan zat pembasah sampai menjadi massa lembak yang elastic atau kohesif,lalu dibuat bentuk batangdengan cara menekan sampai sepanjang alat pil yang dikehendaki,kemudian dipotong dengan alat pemotong pil sesuai jumlah pil yang diminta. Bahan penabur ditaburkan pada massa pil,pada alat penggulung, dan alat pemotong pil, agar massa pil tidak melekat pada alat pembuat pil tersebut. Penyalutan dilakukan jika perlu, namun sebelum penyalutan pil harus kering dahulu atau dikeringkan dalam alat atau ruang pengering, dan bahan penabur yang masih menempel pada pil harus dibersih kan terlebih dahulu.
Pada percobaan ini pembuatan pil dengan komponen-komponen sebagai berikut:
1.    Zat utama/zat aktif : kalium permanganate
Zat aktif bahan obat harus memenuhi persyaratan farmakope.
2.    Zat tambahan yang terdiri dari:
a.         Zat pengisi : Succus liquiritae
Zat pengisi berfungsi untuk memperbesar volume massa pilagar mudah dibuat.
b.      Zat pengikat: adeps lanae
Zat pengikat berfungsi untuk memperbesar daya kohesi maupun daya adhesi massa pil agar massa pil dapat saling melekat menjadi massa ynag kompak.
c.       Zat pembasah : Aqua gliserinata
Zat pembasah berfungsi untuk memperkecil sudut kontak (90oC) antar molekul sehingga massa pil menjadi  basah dan lembek serta mudah dibentuk.
d.        Zat penabur : talcum
Zat penabur fungsinya untuk memperkecil gaya gesekan antara molekul yang sejenis maupun yang tidak sejenis, sehingga massa pil menjadi tidak lengket satu sama lain, lengket pada alat pembuat pil, atau lengket satu sama lain.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan sepertin yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Alat yang digunakan sebaiknya didibersihkan dengan menggunakan kapas yang telah dibasahi dengan alkohol sampai benar-benar bersih agar tidak berpengaruh terhadap sediaan pil dengan adanya bakteri yang tidak di inginkan.
Kalium permanganat, succus liquiritiae dan adeps lanae  ditmbang masing-masing yaitu  kalium permanganat 5g , succus liquiritae 0,3g serta Adeps lanae 0,3g  dengan menggunakan alat timbangan  yaitu timbangan neraca analitik. Penimbangan harus dilakukan secara seksama agar dapat menghasil sediaan yang lebih baik juga dapat meminimalisir kesalahan dalam pembuatan pil.
Setelah melakukan penimbangan, bahan-bahan berupa kalium permanganat, succuss liquiritiae dan zat pengikat ( Adeps lanae) dimasukkan kedalam lumpang dan digerus hinnga homogen. Cara menggerus adalah dilakukan dengan satu arah yaitu berlawanan dengan arah jarum jam.
Selanjutnya, ditambahkan sedikit demi sedikit zat pembasah (aqua gliserinata) hingga massa pil menjadi plastis dan mudah dikepal. Papan pil ditaburi dengan talcum dan selanjutnya missa pil digulung-gulungkan diatas papan pil, lalu dipotong. Potongan massa pil tersebut ditimbang sesuai yang di inginkan yaitu 50mg.
Setelah ditimbang, massa pil dibulatkan  dengan cara digelindingkan diatas papan pil yang telah ditaburi talkum. Namun  pada percobaan ini, kami memulatkan pil dengan tangan saja karena disesuaikan dengan keterbatasan  alat-alat laboratorium yang digunakan. Talkum digunakan untuk  mencegah lengketnya massa pil ketika dibentuk serta lengketnya pil yang satu dengan pil yang lain.
Pil yang telah terbentuk diusahakan memiliki bobot yang seragam. Selain itu juga, bentuknya harus tetap, tetapi tidak begitu keras sehingga dapat hancur dalam saluran pencernaan. Pada percobaan yang kami lakukan,, massa pil yang dibentuk terlalu lembek sehingga bentuknya menjadi tidak seragam.
Langkah terakhir adalah pengemasan pil. Dalam praktikum ini, pil dikemas dalam plastik obat dan diberi etiket putih atau untuk obat dalam. Obat dalam adalah obat yang digunakan melalui mulut dan masuk ke dalam kerongkongan kemudian ke perut/saluran pencernaan (oral). Epada etiket juga disertai cara pemakainnya.
Untuk penyimpanan pil adalah sama dengan penyimpanan tablet yaitu dengan memperhatikan sifat zat tambahan yang digunakan.




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
·         Pil merupakan sediaan yang berbentuk bulat telur, sediaan ini merupakan sediaan oral.
·         Tahap-tahap pembuatan pil ada beberapa cara yaitu, dengan pembuatan masa pil, pemotongan pil, pembulatan pil, dan penyalutan pil.
·         Untuk menghitung  dosis dari 30 pil Permanaganas Kalium  yaitu dengan mengalikan zat aktif dengan jumlah pil yang akan dibuat.
V.2 Saran
·       Sebaiknya pada saat praktikum ini praktikan diharapkan bisa meningkatkan ketelitiannya dalam pengukuran bahan – bahan obat.
·       Dan lebih focus dalam pelaksanaan praktikum agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan praktikum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar